Pada hari Sabtu dan Minggu (29-30 Maret 2008), Saya dan dua rekan saya mengikuti sebuah diklat jurnalistik yang diselenggarakan oleh Lembaga Pers Mahasiswa “Eksekusi” Fakultas Hukum Universitas Airlangga Surabaya, yang bertajuk “Menulis itu Ibarat Ngomong”. Info acara secara lengkap dapat dilihat di blog resmi panitia lpmeksekusifhunair.multiply.com. Secara keseluruhan, bagi saya dua hari yang berkesan. Terima kasih buat panitia beserta tim kreatif acara.
Kita awali dengan menggaris bawahi tajuk / tema yang diangkat, “Menulis itu Ibarat Ngomong”, cukup bagus dan mengena jika dijadikan tema, mengapa? karena secara tidak sadar kita juga melakukan aktivitas jurnalisme. “Eh, tau gak tadi siang, pas gue lewat depan kos, ada cewek manis banget coi, rambutnya lurus, bodinya …… semlohe abizz…..” itulah yang sering kita lontarkan pada orang lain. Pada teman kita, pada saudara kita, pada orang yang kita kenal. Secara tidak sadar kita telah melakukan reportase (walaupun secara tidak sengaja, sebagaimana contoh di atas) dan kita melaporkan kegiatan tersebut pada orang lain. Wartawan dadakan !!. Disamping itu, menulis, dari proses pembuatannya sampai efek yang ditimbulkannya hampir sama dengan ngomong. Ngomong itu harus dari hati, begitupun menulis. Sebab ngomong perpecahan ataupun persatuan dapat diwujudkan, begitupun sebab sebuah tulisan.
Namun tidak selamanya Ngomong itu ibarat menulis, orang yang jago ngomong pun belum tentu jago menulis. Menulis tidak menghadapi audience secara langsung, berbeda dengan ngomong. Hal ini menjadi masalah bagi sebagian orang, oleh karena itu lahirlah ilmu retorika sebagai alternatif jawaban atas permasalahan tersebut. Dalam ilmu retorika, seseorang diajari untuk menjadi orator yang handal, termasuk bagaimana cara menghadapi audience.
Secara personal, dari beberapa referensi, saya lebih setuju mendefinisikan menulis itu ibarat berenang. Seberapa banyak referensi yang anda baca, seberapa sering anda mengikuti seminar dan diklat serupa, akan nihil hasilnya jika anda tidak segera mulai menulis, akan sama dengan orang belajar berenang, kalo mau bisa ya nyebur aja, berapa banyak teori berenang yang anda terima tidak akan berguna jika anda tidak nyebur. Mulailah menulis dari sekarang. Menyitir ucapan Ingki Rinaldi- narasumber dalam “Menulis itu Ibarat Ngomong”-. Ia mengatakan untuk jadi penulis atau jurnalis rahasianya ada tiga, yakni menulis, menulis, dan menulis.
Selanjutnya adalah inti dari tulisan, yakni Materi. Materi pertama yang dalam jadwal diampaikan oleh Iman dari Aliansi Jurnalistik Independen (AJI) digantikan oleh Anita Rahman. Dalam sesi tersebut saya tidak tau kapasitas beliau sebagai pembicara, sebagai AJI atau Jawa Pos Press. Mengusung materi berburu berita, sesi ini berlangsung semangat, semua peserta terlihat antusias. barangkali salah satu faktornya adalah karena masih pagi, masih fresh. Dalam sesi ini, Anita mengenalkan teori menulis tidak hanya 5W1H. Menurutnya, saat ini tidak cukup hanya 5W , namun 7W. Lah?…W yang selanjutnya adalah What next dan Wow. What Next memiliki maksud mengejar apa yang selanjutnya. Contoh : berita kasus pencopotan jampidsus terkait kasus BLBI, maka what next nya adalah siapa penggantinya.
Pembicara yang kedua menurut jadwal adalah Kris (kompas press), namun lagi-lagi harus berhalangan dan digantikan oleh Ingki Rinaldi (ingkirinaldi.blogspot.com). Nah, mas Ingki inilah yang menginspirasi saya, membakar semangat saya untuk mulai menulis (sebelumnya saya ini sangat malas menulis). Berkat kata-katanya yang meresonansi, saya semakin terpikat dengan dunia jurnalistik.
“Di sini kita akan lebih banyak sharing saja, ….. Saya tidak mau keluar dari sini tidak mendapat apa-apa, saya juga perlu belajar dari kalian” ujarnya sambil berdiri. Gaya pembukaannya yang berbeda dari pemateri yang lain ini cukup membuat para peserta jurnalistik meneken kontrak untuk mendengarkan materi yang akan disampaikannya (setidaknya itu yang saya amati). Seperti yang kemudian dijelaskannya dalam materinya tentang komposisi penulisan berita layaknya piramida terbalik. Itulah Ingki… sosok yang membius, pikirannya sering nakal sebagaimana jiwanya yang merdeka. Thanks mas atas inspirasinya.
Materi lainnya disampaikan oleh Riadi Ngasiran (Duta Masyarakat Press), Mengenal bentuk penulisan dan teknik penulisan esai dan feature. Ada juga Aku menulis aku ada oleh Rachmat Giryadi (Jatim Mandiri Press).
Untuk menutup penulisan ini, sekali lagi saya sampaikan sebagaimana kesimpulan yang berhasil saya simpulkan ketika pelathan usai bahwa tidak resep khusus untuk menjadi penulis kecuali menulis, menulis, dan menulis. Oh ya, selain menulis makanan seorang penulis, atau yang sedang ingin jadi penulis adalah membaca.
Ingat!! Dua unsur penting penulisan :
- Unsur Pasif, yaitu membaca
- Unsur aktif, yaitu Menulis
Sekian dulu, nedo nerimo, sepurane seng akeh..
salam
Asif Faroqi “Al-fakir”



terus membaca dan menulis. menulis dan membaca. semua adalah proses. jangan takut salah. salahkan ketakutan untuk mencoba. maka, jangan takut. coba saja. tulis saja. sukses!
matur nuwun mas, mohon bimbingannya….
bersiap…. semangat….
sif…blog kamu ini kamu daftarkan ke google ya?
gmn sih carana biar (sedikitnya sih cari berita2 anak hukum) blog Eksekusi nampang di google?
thx ya guzhhh…
iya…..
ketikkan alamat http://www.google.com/addurl/ untuk menuju halaman pendaftaran blog.
atau dapat masuk google.com dulu , lalu ketikkan frasa add url to google
setelah itu tinggal ngikuti perintah aja
piye siff ??? punyaku gag bisa iki….