Mulai hari ini (1 mei ) sampai sebulan ke depan (hingga 31 Mei Mendatang), masyarakat Surabaya akan dimanjakan dengan belanja diskon, berhadiah dan aneka hiburan di 14 pusat perbelanjaan besar di metropolis.
Rencananya nanti malam (1/5), Even belanja terbesar tahun ini, Surabaya Shopping Festival (SSF) 2008 akan dibuka dan diresmikan oleh Walikota Surabaya Bambang D.H. di Atrium Tunjungan Plaza I.
Sebuah acara yang menurut saya, hanya akan menumbuhsuburkan budaya konsumtif masyarakat kita.
Bagaimana tidak, even yang diikuti oleh sekitar lima ribu tenant (stan) yang tersebar di 14 pusat perbelanjaan besar metropolis tersebut akan memprovokasi masyarakat untuk pergi ke pusat perbelanjaan, mentrigger syahwat berbelanja mereka.
Berbagai embel-embel yang diusung, mulai dari diskon-yang konon katanya sampai 70%-, belanja berhadiah, dan embel-embel lain yang sifatnya memanjakan akan menjadi magnet.
Tak jauh-jauh, saya sendiri yang memperoleh informasi tersebut dari surat kabar, secara tak saya duga timbul keinginan untuk datang ke festival belanja tersebut. Maklum saja, ada sebuah kebutuhan yang perlu saya penuhi dan ini sudah lama saya rencanakan. Jadi maklum dong, kan mumpung ada diskon, hwekekekeke…..
Nah, yang menjadi perbincangan adalah jika tidak memiliki kebutuhan mendesak yang harus dipenuhi, lantas pertimbangannya hanya satu ”kan mumpung ada diskon, belanja saja sekarang ….”
Ujung-ujungnya tentu akan mencari-cari kebutuhan untuk memenuhi kebutuhan. Aneh juga kedengarannya? Memenuhi kebutuhan dengan kebutuhan.
Pergeseran makna kebutuhan, dari objek yang harus dipenuhi menjadi subjek yang memenuhi.
Persoalan ini mirip dengan persoalan mengenai perang tarif antar operator seluler di tanah air yang berlomba-lomba menjadi yang termurah, dengan berbagai syarat dan batasan-batasan di sana-sini tentunya.
Ambil saja contoh salah satu penyedia layanan seluler yang memberikan bonus SMS setelah memakai beberapa rupiah dari pulsanya. Orang yang tidak pikir panjang pasti akan langsung termakan untuk merelakan pulsanya demi SMS gratis tersebut (termasuk saya,tapi itu dulu-hwekekeke…). Atau penyedia layanan yang memberikan tarif murah setelah pemakaian pulsa sampai beberapa menit.
Berbagai menu murah tesebut hanyalah sebuah kamuflase yang ujung-ujungnya adalah pemakaian pulsa yang boros, tidak efisien dan hanya memuaskan dan menambah pundi-pundi keuntungan bagi operator.
Sementara di satu sisi kita telah mengalami-secara tidak sadar-degradasi budaya hemat.
Orang semakin tidak efektif dan efisien dalam tindak-tanduknya. Budaya produktif pun tergerus oleh kemanjaan yang ditawarkan oleh budaya konsumtif. Orang-orang –termasuk saya di dalamnya- telah banyak berbuat sesuatu yang tidak penting. Padahal dikatakan oleh orang-orang bijak dalam banyak buku bahwa ”barangsiapa yang mengejar sesuatu yang tidak penting maka ia akan kehilangan sesuatu yang penting…..”.
salam.



Kata Mereka