Heboh di Negeriku

15 05 2008

Akhir-akhir ini manusia Indonesia sering dikejutkan oleh peristiwa-peristiwa decak kagum, yang berada di luar jangkauan kemanusiaannya. Mulai dari “heboh Ahmadiyah”, “heboh SMS santet”,”heboh persiapan pilgub Jatim”, sampai yang paling gress adalah ”heboh kenaikan BBM” (beserta demo-demo yang memperjuangkan BBM “jangan sampai naik”)..

Berbagai opini seputar kehebohan-kehebohan tersebut terdengar akrab di telinga, baik yang terwartakan maupun yang hanya cerita dari mulut ke mulut di bangku-bangku perkuliahan, di warung-warung kopi, di tempat-tempat kongkow, di kos-kosan dan dimana-mana..

Semalam (14/5), saya kedatangan tamu. Seorang kawan lama yang beberapa bulan ini jarang bertemu karena ia harus dinas di luar pulau, Pulau Madura. Dan sudah beberapa minggu ini ia dipindahkan dari semula dinas di Madura ke tempat dinasnya yang baru di daerah Pandaan.

Memang, Ia datang untuk memenuhi undangan ayahku. Karena ayahku adalah gurunya, dan ia adalah santri ayahku, maka setiap undangan dari ayahku, jika tidak ada udzur syar’i, ia pasti hadir. Bentuk ta’dzim seorang santri pada ustadznya, seorang murid pada gurunya, dimana budaya-budaya tersebut mulai tergerus musnah dimakan globalisasi. Entah mengapa? Apa karena akhlaq dirasa tak penting, sehingga pendidikan tidak ditekankan pada pembinaan akhlaq, yang penting peserta didik menjadi pakar matematika, geografi, dan sebagainya sehingga nanti pas uan dapat lulus semua. Entah setelah lulus jadi apa, siapa peduli? Lantas esensi pendidikan dimana? Itulah manusia-manusia Indonesia yang memuliakan “pengajaran” daripada “pendidikan”.

Seusai menemui ayahku dan usai semua keperluannya, ia menemui saya yang sedang duduk-duduk di teras rumah bersama teman-teman yang lain, yang sama-sama menunggunya.

“Cak Asif, Apa kabar?” begitu sapanya “Sibuk apa sekarang?”lanjut pengantin baru ini menyambar sebelum sempat kujawab pertanyaan pertama tadi.

“Alhamdulillah, sae Cak Hari (maksudnya “baik-baik saja cak Hari…” hehehe…)” jawabku. “Ya cuma sibuk kuliah aja”tambahku.

Kami bercengkrama mulai sekitar pukul 21.00 sampai sekitar pukul 24.00 WIB. Karena ia harus pulang, maklum pengantin baru…hehehehe…..”Saya pulang dulu, sudah ditunggu istri saya” pungkasnya sambil tertawa.

Selama kurang lebih 3 jam tersebut, ia banyak bercerita kehebohan-kehebohan di negeri ini. Diawali seputar SMS terror alias “SMS santet” yang menurut saya itu adalah kehebohan yang memang sengaja diciptakan. Orang tentu akan mudah menebak bahwa hal tersebut berkaitan dengan bisnis teknologi komunikasi dan telekomunikasi yang sedang ramai dengan perang tarifnya. Kentalnya iklim persaingan tersebut bukan tidak mungkin akan sampai pada level “pemusnahan lawan”. Saat ini pelanggan telepon nirkabel, baik yang melalui teknologi global system for mobile maupun code division multiple access, hampir mencapai 100 juta pelanggan. Diperkirakan, masih ada 40 juta penduduk Indonesia yang masih bisa diperebutkan oleh para operator. Bisnis yang menggiurkan bukan, dengan pasar yang sedemikian besar.

Cerita selanjutnya mengalir menuju ”BBM” yang sudah diputuskan oleh pemerintah akan naik. Duh, pusing juga yah kalau naik, Lah motorku kan juga butuh bahan bakar.

Berdasarkan survey yang dilakukan oleh sebuah lembaga survey (kalo gak salah namanya synotape…saya lupa), diperoleh data yang menunjukkan bahwa kenaikan BBM ini lebih dapat diterima pada kalangan dengan tingkat ekonomi dan pendidikan menengah ke atas (Jelas aja, lah mereka memang punya uang).

Terus untuk manusia Indonesia yang lain? Meminjam istilah Megawati, ”wong cilik”, bagaimana nasib mereka?

Untuk hal ini, Cak Hari, dengan kapasitasnya sebagai seorang manajer divisi, memberikan dawuhnya. Menurutnya, yang kasihan tetaplah orang kecil. Di perusahaan tempat ia bekerja, gara-gara adanya kenaikan BBM, perusahaan berencana akan melakukan efisiensi. Naiknya harga BBM secara langsung akan mempengaruhi biaya produksi. Untuk mengimbangi beban biaya produksi yang meningkat tersebut, perusahaan setidaknya akan memiliki dua opsi kebijakan.

Menaikkan harga produknya atau melakukan efisiensi. Untuk menaikkan harga produk, tidak semudah membalikkan telapak tangan. Perusahaan perlu mempertimbangkan matang-matang. Jangan sampai gara-gara harga produk naik konsumen akan pergi meniggalkan. Opsi kedua adalah efisiensi. Departemen yang semula diisi oleh 4 orang akan disusutkan menjadi 2 orang saja.

Nambah lagi deh angka pengangguran. Dua kebijakan yang pada akhirnya tidak ada yang memihak suara orang kecil.

Mahasiswa, menjalankan fungsinya sebagai social control, ramai-ramai turun ke jalan menentang kenaikan BBM. Ironisnya, banyak aksi-aksi mereka yang berakhir ricuh, bentrok dengan aparat. Saya pun miris dan geram melihat itu semua. Sebenarnya apa yang ada di pikiran para aparat itu? Apa mereka juga tidak pusing jika BBM naik? Padahal dari mereka-aparat- tidak sedikit yang termasuk wong cilik? Dengan tanpa beban mereka membenturkan pentungan mereka ke tubuh para mahasiswa yang memperjuangkan suara wong cilik.

Apa mau dikata: benarlah apa yang pernah diucapkan oleh Gunawan Muhammad : ”Si miskin tau ia bukan termasuk mereka yang bisa menang. Ia bahkan mungkin tak termasuk mereka yang pernah menang. Orang kecil, adalah orang yang pada akhirnya, terlalu sering kalah……”


Actions

Information

6 responses

24 05 2008
diam

lha sekarang BBM dah naek

apakah demo2 tersebut masih berguna????
akhir2ni aja sampe ada bentrok yang menyebabkan salah satu perguruan tinggi di Jakarta rusak ……
pie ki terusan????(tawuran terus)

kenapa budaya2 yang sebenarnya merupakan ciri dari masyarakat kita sudah mulai tergerus zaman?????

25 05 2008
asif

lah yo om piye iki? makanya demo2 yang menyertai naiknya bbm saya cantumkan sebagai salah satu “heboh”.

repot juga kalo budaya kekerasan sudah merasuk

ayo budayakan budaya damai, kita mulai dari diri kita sendiri

25 05 2008
devonjelek

sekarang ma mahsiswa sekrang cuma bisa ngomong klo pemerintah pengen BBM naek ya naeklah BBM…

mahsiswa skrng ma khususx ITS mayoritas cuma bisa pasrah…

kebanyakan kata2 yg kluar dari seseorang yang dinamakan mahsiswa “knp seh kita berontak… nurut aja napa…”

Kita sadari atau ga…

kita merdeka karena kaum muda memberontak bung karno n bung hatta spy cpt2 memproklamasikan kemerdekaan…

taun 98.. qt kluar dari orba jg krn membrontak…

kita bisa kyk gini skrng y… krn soekarno memberontak penjajah…

So??

TAPI…

yg saya katahkan disini adalah membrontak dngn menggunahkan otak bukan “nafsu”

28 05 2008
asif

sampean mahasiswa mana mas?
hawakakaka…….

2 06 2008
devonjelek

aq???

mahsiswa mana y??

mahasiswa indonesia pastix

8 06 2008
Kiki Ahmadi

cuman bisa komentar…

Iki Indonesia Jeh !!!

:)

Leave a comment